Hukum Menikah dengan Istri Kedua Tanpa Sepengetahuan Istri Pertama

Pertanyaan:
Sebuah surat sampai ke program kami dari Doha, Qatar, dikirim oleh seorang mukim di sana yang berinisial (M.M.A). Ia mengajukan beberapa pertanyaan, di antaranya: “Bolehkah seorang laki-laki menikahi dua wanita tanpa sepengetahuan salah satunya, serta memberi kesan kepada istri kedua bahwa dia belum pernah menikah?”
Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah:
Masalah ini memerlukan rincian:
Boleh bagi seorang laki-laki untuk menikah lagi (kedua, ketiga, atau keempat) tanpa sepengetahuan istri-istri sebelumnya. Hal ini tidaklah mengapa. Contohnya, jika dia sedang bersafar ke suatu daerah lalu menikah di sana dan mendatangi istri tersebut saat ia bersafar ke sana, maka itu diperbolehkan.
Namun, jika berada di kota yang sama, maka istri pertama harus mengetahui hal tersebut agar suami dapat membagi waktu dan berlaku adil di antara keduanya.
Tidak diperbolehkan menipu istri kedua dengan memberi kesan bahwa ia tidak memiliki istri. Sebaliknya, ia harus jujur dan memberitahunya bahwa ia sudah memiliki istri, karena menyembunyikan hal tersebut termasuk bentuk penipuan (khida’).
Jika berada di kota yang sama, ia harus memberitahu, membagi waktu dengan adil bagi keduanya, serta memberikan hak-hak mereka masing-masing. Ia tidak boleh melakukan tipu daya dan makar.
Adapun jika berada di negeri lain, misalnya ia bersafar untuk studi, maka ia boleh menikah di negeri tersebut untuk menjaga kehormatan dirinya (agar tidak terjerumus zina), meskipun ia tidak bermusyawarah atau tidak memberitahu istrinya (yang di tanah air). Hal itu tidak membahayakannya (secara syariat) selama jumlah istrinya belum mencapai batas maksimal empat orang. Jika baru punya satu istri, ia boleh ambil yang kedua; punya dua boleh ambil yang ketiga; punya tiga boleh ambil yang keempat. Tidak boleh lebih dari empat.
Kesimpulannya:
Jika ia membutuhkan hal tersebut dan ingin menikah, maka memberitahu istri (yang berada di negeri lain) bukanlah sebuah syarat. Namun, ia tetap harus memperhatikan kewajiban membagi waktu dan berlaku adil dalam hal nafkah serta hal-hal lain yang menjadi kewajiban suami dalam hal keadilan.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada semuanya.
Sumber: Situs Resmi Syaikh Bin Baz (Fatwa Nur ‘ala ad-Darb).
Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab
السؤال: رسالة وصلت إلى البرنامج من قطر -الدوحة- باعثها مستمع من هناك يقول (م. م. ع) مقيم في الدوحة، أخونا له جمع من الأسئلة في أحد أسئلته يقول: هل يجوز للرجل أن يتزوج بامرأتين بدون علم إحداهما، مع إيهامه الثانية أنه غير متزوج؟
الجواب: هذا فيه تفصيل: يجوز أن يتزوج ثانية وثالثة بدون علم السابقات لا بأس بذلك، إذا كان مثلاً سافر إلى بلد من البلدان، وتزوج فيها ويأتي إليها وقت سفره إلى هناك لا بأس بذلك
أما في البلد الواحدة فلا بد من العلم حتى يقسم بينهما وحتى يعدل بينهما، وليس له أن يوهمها أنه لا زوجة له، بل يعلم ويخبرها بأن عنده زوجة؛ لأن هذا من الخداع، فلا بد أن يعلمها أن له زوجة إذا كان في بلد واحد، يقول: نعم. ويقسم لهما جميعًا وينصفهما ويعطيهما حقهما، وليس له الخداع والمكر
أما في بلاد أخرى مثل سافر للدراسة فله أن يتزوج في البلد حتى يعف نفسه ولو ما شاور المرأة ولو ما علم المرأة، لا يضره ذلك ما دام ليس عنده العدد المسموح به وهو أربع بل عنده فرصة، فإذا كان ما عنده إلا واحدة يأخذ ثانية، ما عنده الاثنتين يأخذ ثالثة، عنده ثلاث يأخذ رابعة لا بأس لا يزيد على الأربع
المقصود أنه إذا احتاج إلى ذلك وأراد أن يتزوج ليس من شرط ذلك أن يعلم زوجته إذا كانت في بلد أخرى، لكن مع مراعاة قسم الواجب والعدل في النفقة وغير هذا مما يجب على الزوج من جهة العدالة. نعم، نسأل الله للجميع الهداية. نعم
https://binbaz.org.sa/fatwas/12569/حكم-الزواج-بالثانية-دون-علم-الاولى
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.