10 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Tauhid » Seorang yang Mentauhidkan Allah Hendaknya Mengajak Orang Lain Untuk Mentauhidkan Allah dan Menjauhi Kesyirikan (Bagian Pertama)

Seorang yang Mentauhidkan Allah Hendaknya Mengajak Orang Lain Untuk Mentauhidkan Allah dan Menjauhi Kesyirikan (Bagian Pertama)

SERIAL KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-19)


BAB KELIMA:
BERDAKWAH KEPADA PERSAKSIAN LAA ILAAHA ILLALLAH

Dalil Pertama:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakan (wahai Muhammad): Ini adalah jalanku, aku mengajak (manusia) kepada Allah di atas bashirah (ilmu), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan.
(Q.S Yusuf:108)


baca bab sebelumnya pada tema: Bahaya Kesyirikan dan Pengaruhnya yang Sangat Buruk Bagi Seseorang (Bagian Ke-5)


Penjelasan:

Ayat ini menjelaskan manhaj (metode/ jalan yang ditempuh) oleh Nabi dan para pengikutnya adalah:

  1. Berdakwah kepada Allah untuk mentauhidkanNya dan tidak mensekutukanNya dengan suatu apa pun. Nampak pada potongan ayat terakhir: dan aku bukan termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan.
  2. Berdakwah kepada Allah harus berisi keikhlasan dan

Para Ulama menjelaskan makna bashiroh adalah ilmu untuk membedakan al-haq dengan al-bathil (sebagaimana penjelasan al-Imam al-Baghowy dan asy-Syaukany dalam tafsir mereka berdua).

Sedangkan Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa bashiroh itu mengandung 3 hal:

  1. Ilmu tentang syariat (halal-haram, al-haq dengan al-bathil, pent)
  2. Ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi.
  3. Ilmu tentang hikmah dalam dakwah/ metode terbaik yang bisa menyampaikan pada tujuan dakwah. Apakah dengan cara lembut, atau keras, atau bahkan melunakkan hati orang yang didakwahi dengan diberi hadiah.

(disarikan dari al-Qoulul Mufiid syarh Kitabit Tauhid libni Utsaimin (1/82)).


baca juga: Keharusan Memahami Kondisi dalam Berdakwah


Dua Hal yang Merusak Dakwah: Tidak Ikhlas dan Tidak Berilmu

Adakalanya seseorang berdakwah dengan isi dakwah yang sesuai dengan tuntunan Nabi, namun ia tidak ikhlas. Ia mengajak orang untuk mengikuti dirinya, terpesona dengan ilmunya, memperbanyak pengikut, dan maksud-maksud duniawi lainnya. Maka orang yang demikian –semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu- bukanlah pengikut Nabi yang sebenarnya. Karena pengikut Nabi yang sebenarnya mengajak manusia kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri.

Sebaliknya, ada orang yang ikhlas dalam berdakwah, namun muatan dakwahnya tidak dibangun di atas ilmu. Dia tidak paham mana yang halal dan mana yang haram. Dia tidak tahu apakah yang disampaikannya adalah hadits shahih atau hadits lemah, bahkan palsu. Yang demikian juga bukan ciri pengikut Nabi. Karena Nabi dan para pengikutnya berdakwah di atas bashiroh (ilmu).


baca juga: Dari Benci Menjadi Cinta Kepada Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab


Berdakwah kepada Allah adalah Ciri Pengikut Nabi

Sikap mengikuti Nabi tidaklah sempurna jika seseorang tidak terlibat aktif dalam dakwah kepada Allah. Syaikh Sholih bin Fauzan menyatakan: ayat ini menunjukkan bahwa seseorang yang tidak berdakwah kepada Allah dia belum benar-benar mengikuti Rasul shollallahu alaihi wasallam (I’aanatul Mustafiid syarh Kitabit Tauhid lil  Fauzan (1/103).

Maka wahai para Muwahhidiin (orang yang mentauhidkan Allah), aktiflah mendukung dakwah. Jika anda belum mampu menyampaikan ceramah atau tulisan secara langsung karena keterbatasan ilmu yang ada, aktiflah dalam dakwah dengan menyebarkan tulisan-tulisan atau terjemahan para Ulama atau para dai yang dikenal baik berada di atas Sunnah. Bisa juga menyebarkan audio ceramah, buletin, majalah yang jelas berada di atas Sunnah. Jangan hanya pasif, karena salah satu ciri Nabi dan para pengikutnya adalah aktif terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.

 

Ditulis oleh:
Abu Utsman Kharisman