11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Hadits » Panjang Umur Dalam Ketaatan, Karunia Bagi Orang-Orang Terbaik

Panjang Umur Dalam Ketaatan, Karunia Bagi Orang-Orang Terbaik

Sahabat Abu Bakrah Nufai’ bin AlHarits radhiyallahu anhu meriwayatkan hadits:

أنَّ رجلًا قالَ : يا رسولَ اللَّهِ أيُّ النَّاسِ خيرٌ؟ قالَ : مَن طالَ عمرُهُ ، وحَسنَ عملُهُ ، قالَ : فأيُّ النَّاسِ شرٌّ؟ قالَ : مَن طالَ عمرُهُ وساءَ عملُهُ

“Bahwa ada seseorang bertanya: ‘Wahai rasulullah, siapakah orang yang paling baik?’ beliau shollallahu alaihi wasallam menjawab: ‘Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ Si penanya kembali bertanya: ‘Lalu, siapakah orang yang paling buruk?’ Beliau shollallahu alaihi wasallam menjawab: ‘Orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.'”
(HR. AtTirmidzi, dinyatakan Shohih lighairihi oleh Syaikh AlAlbaniy rahimahumullah)

Panjang umur dengan banyak amal kebaikan merupakan ciri orang yang baik. Tentunya syarat diterimanya ibadah menjadi kunci pentingnya. Untuk mengingat kembali seputar syarat diterimanya amal, silakan simak artikel di: Tiga Permintaan Dalam Doa Selepas Shalat Subuh


Bagaimana bisa panjangnya usia disertai amal kebaikan adalah tipe terbaik?

Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah memaparkan penjelasannya:

ﻷﻥ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻛﻠﻤﺎ ﻃﺎﻝ ﻋﻤﺮﻩ ﻓﻲ ﻃﺎﻋﺔ اﻟﻠﻪ ﺯاﺩ ﻗﺮﺑﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻭﺯاﺩ ﺭﻓﻌﺔ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ؛ ﻷﻥ ﻛﻞ ﻋﻤﻞ ﻳﻌﻤﻠﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺯاﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﺮﻩ ﻓﻬﻮ ﻳﻘﺮﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻪ ـ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ـ ﻓﺨﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻭﻓﻖ ﻟﻬﺬﻳﻦ اﻷﻣﺮﻳﻦ ﺃﻣﺎ ﻃﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻹﻧﺴﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺗﺼﺮﻑ؛ ﻷﻥ اﻷﻋﻤﺎﺭ ﺑﻴﺪ اﻟﻠﻪ ـ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ـ، ﻭﺃﻣﺎ ﺣﺴﻦ اﻟﻌﻤﻞ؛ ﻓﺈﻥ ﺑﺈﻣﻜﺎﻥ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ ﻋﻤﻠﻪ؛ ﻷﻥ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﻌﻞ ﻟﻪ ﻋﻘﻼ، ﻭﺃﻧﺰﻝ اﻟﻜﺘﺐ، ﻭﺃﺭﺳﻞ اﻟﺮﺳﻞ، ﻭﺑﻴﻦ اﻟﻤﺤﺠﺔ، ﻭﺃﻗﺎﻡ اﻟﺤﺠﺔ، ﻓﻜﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ، ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫا ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ؛ ﻓﺈﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ اﻷﻋﻤﺎﻝ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﺳﺒﺐ ﻟﻄﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ، ﻭﺫﻟﻚ ﻣﺜﻞ ﺻﻠﺔ اﻟﺮﺣﻢ؛ ﻗﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ: (ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺭﺯﻗﻪ، ﻭﻳﻨﺴﺄ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ) ، ﻭﺻﻠﺔ اﻟﺮﺣﻢ ﻣﻦ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻃﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ، ﻓﺈﺫا ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻃﺎﻝ ﻋﻤﺮﻩ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﻤﻠﻪ؛ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻹﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺴﺄﻝ اﻟﻠﻪ ﺩاﺋﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻠﻪ ﻣﻣﻦ ﻃﺎﻝ ﻋﻤﺮﻩ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﻤﻠﻪ، ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺧﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ.

“Karena seseorang, semakin panjang umurnya dalam ketaatan kepada Allah akan semakin dekat kepada Allah, dan bertambah tinggi kedudukannya di akhirat.

Sebab setiap amalan yang dilakukannya sepanjang pertambahan umur itu akan semakin mendekatkan dirinya kepada Rabbnya – ‘Azza waJalla -.

Adapun sebaik-baik manusia orang yang dapat meraih kedua perkara ini.

Sementara (semata) panjangnya umur, sesungguhnya karunia itu dari Allah. Tidak ada (kemampuan) manusia mengurusinya. Karena memang batas-batas usia berada di Tangan Allah – Azza waJalla -.

Sedangkan pada kebaikan amal, terdapat bagian yang memungkinkan manusia untuk memperbaiki amalnya. Sebab Allah Ta’ala memang telah mengaruniakan akal baginya, menurunkan Al Kitab (Al Quran), mengutus para Rasul, menjelaskan ilmu secara tepat dan menyampaikan bukti kuat. Sehingga sebenarnya setiap orang dapat berusaha beramal saleh.

Di samping itu apabila seseorang beramal saleh, sesungguhnya Nabi shollallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa ada beberapa amal saleh yang menjadi sebab panjang umur. Contohnya seperti silaturahmi.

Nabi alaihish sholatu wassalam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa saja yang ingin agar dilapangkan rezekinya, dan diakhirkan ajalnya, hendaklah dia menyambung silaturahmi.” (HR. Al Bukhori -pen)

Memang, silaturahmi merupakan salah satu sebab panjang umur.

Jadi apabila sebaik-baik orang yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, tentu sepantasnya bagi setiap insan untuk senantiasa memohon kepada Allah agar Dia menjadikannya sebagai orang yang panjang umur sekaligus baik amalnya, supaya dia terkategorikan tipe orang terbaik.”

(Syarh Riyadhushshalihin 2/106-107)


Baca Juga: Merasakan Kenikmatan dan Kebahagiaan dalam Berbagai Keterbatasan


Apakah semua karunia usia panjang selalu berarti kebaikan?

Syaikh ibnu Utsaimin rahimahullah, melanjutkan penjelasan beliau:

ﻭﻓﻲ ﻫﺬا ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﺠﺮﺩ ﻃﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ ﻟﻴﺲ ﺧﻴﺮا ﻟﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﻻ ﺇﺫا ﺃﺣﺴﻦ ﻋﻤﻠﻪ؛ ﻷﻧﻪ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻃﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ ﺷﺮا ﻟﻹﻧﺴﺎﻥ ﻭﺿﺮﺭا ﻋﻠﻴﻪ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ: (ﻭﻻ ﻳﺤﺴﺒﻦ اﻟﺬﻳﻦ ﻛﻔﺮﻭا ﺃﻧﻤﺎ ﻧﻤﻠﻲ ﻟﻬﻢ ﺧﻴﺮ ﻷﻧﻔﺴﻬﻢ ﺇﻧﻤﺎ ﻧﻤﻠﻲ ﻟﻬﻢ ﻟﻴﺰﺩاﺩﻭا ﺇﺛﻤﺎ ﻭﻟﻬﻢ ﻋﺬاﺏ ﻣﻬﻴﻦ) (ﺁﻝ ﻋﻤﺮاﻥ: 178)
ﻓﻬﺆﻻء اﻟﻜﻔﺎﺭ ﻳﻤﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ـ ﺃﻱ ﻳﻤﺪﻫﻢ ﺑﺎﻟﺮﺯﻕ ﻭاﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻭﻃﻮﻝ اﻟﻌﻤﺮ ﻭاﻟﺒﻨﻴﻦ ﻭاﻟﺰﻭﺟﺎﺕ، ﻻ ﻟﺨﻴﺮ ﻟﻬﻢ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﺷﺮ ﻟﻬﻢ ـ ﻭاﻟﻌﻴﺎﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻷﻧﻬﻢ ﺳﻮﻑ ﻳﺰﺩاﺩﻭﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﺛﻤﺎ

“Pada hadits ini terdapat dalil bahwa sekadar panjang umur bukan merupakan kebaikan bagi seseorang. Kecuali jika (dibarengi) dengan kebaikan amal. Karena terkadang panjangnya umur justru berdampak buruk bagi seseorang sekaligus membahayakannya. Sebagaimana firman Allah Tabaroka waTa’ala:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali Imran: 178)

Jadi, orang-orang kafir itu dibalas dengan masa tangguh oleh Allah, dengan diberi karunia berupa rezeki, kesehatan, panjang umur, anak-anak dan para istri; bukan untuk kebaikan mereka. Justru (semua itu) akan berdampak buruk bagi mereka – semoga Allah memberikan perlindungan (kepada muslimin). Karena dengan berbagai pemberian itu malah mereka gunakan untuk menambah dosa.”

(Syarh Riyadhushshalihin 2/107-108)


Baca Juga: Tidak Akan Meninggal Suatu Jiwa Hingga Tercapai Ajalnya


Usia sebagai modal meraih kesuksesan

Ketika menjelaskan kandungan hadits ini, Abul ‘Ala Al Mubarokfuri mengutipkan perkataan Ath Thibbi rahimahullah:

ﺇﻥ اﻷﻭﻗﺎﺕ ﻭاﻟﺴﺎﻋﺎﺕ ﻛﺮﺃﺱ اﻟﻤﺎﻝ ﻟﻠﺘﺎﺟﺮ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺘﺠﺮ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺮﺑﺢ ﻓﻴﻪ ﻭﻛﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺭﺃﺱ ﻣﺎﻟﻪ ﻛﺜﻴﺮا ﻛﺎﻥ اﻟﺮﺑﺢ ﺃﻛﺜﺮ ﻓﻣﻦ اﻧﺘﻔﻊ ﻣﻦ ﻋﻤﺮﻩ ﺑﺄﻥ ﺣﺴﻦ ﻋﻤﻠﻪ ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ ﻭﺃﻓﻠﺢ ﻭﻣﻦ ﺃﺿﺎﻉ ﺭﺃﺱ ﻣﺎﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﺮﺑﺢ ﻭﺧﺴﺮ ﺧﺴﺮاﻧﺎ ﻣﺒﻴﻨﺎ

“Sesungguhnya berbagai waktu dan kesempatan laksana modal usaha bagi saudagar. Tentu sepatutnya dia mengelola perniagaannya agar tercapai keuntungan pada usahanya. Jadi semakin banyak modal usahanya, laba yang diharapkan semakin banyak. Sehingga, orang yang memanfaatkan umurnya dengan amal yang baik, sungguh dia berbahagia dan sukses. Sedangkan orang yang menyia-nyiakan modal usahanya, tidak diperoleh keuntungannya. Tapi justru dia merugi dengan kerugian yang jelas.” (Tuhfatul Ahwadzi 34/512).

Saudaraku, sudah sekian Ramadhan kita masuki, begitu banyak pula yang telah berlalu bersama berkurangnya usia kita. Sekarang kembali kesempatan dan modal berharga dalam perjalanan hidup kita ini tiba. Berbahagialah orang-orang yang giat mengisi waktunya dengan amal-amal ketaatan. Semoga kesempatan ini dan kita nuga memohon sekian kesempatan di tahun-tahun berikutnya Allah berikan taufiq kepada kita semua menjalani dan beramal lebih baik.

اللهم تقبل منا واجعلنا من الأخيار

?️ Ditulis oleh:
Abu Abdirrohman Sofian