11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Tarikh » Biografi » Biografi Imam Al-Muzani rahimahullah

Biografi Imam Al-Muzani rahimahullah

Nama Lengkap

(Abu Ibrahim) Ismail bin Yahya bin Isma’il al-Muzani

Masa Kehidupan

Tahun 175 H hingga 264 H. Beliau hidup selama 89 tahun. Pada masa kehidupan beliau hiduplah 11 penguasa al-Abbasiyah. Di antaranya Harun ar-Rasyid (193 H), Muhammad al-Amin (198 H), al-Ma’mun (218 H) -awal pemerintah fitnah khuluqul qur’an- bermula, al-Mu’tashim (227), al-Watsiq (232 H), al-Mutawakkil (247 H) -penguasa yang mulai menghidupkan Sunnah-.

Pujian Ulama terhadap Beliau

Al-Imam Ibnu Abdil Bar (salah seorang Ulama’ Malikiyyah) menyatakan: 

Beliau adalah Sahabat asy-Syafi’i yang paling berilmu, kecerdasan dan pemahamannya sangat detail, kitab-kitab dan ringkasan-ringkasan karyanya tersebar di seluruh penjuru bumi baik di timur maupun barat. Beliau adalah seorang yang bertaqwa, wara’, dan (menjaga) agama. Sangat penyabar dalam (menyikapi) keadaan yang sedikit dan kekurangan (Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 8).

Al-Imam Ibnul Jauzi (salah seorang Ulama’ al-Hanabilah) menyatakan: 

Beliau adalah Sahabat asy-Syafi’i–semoga Allah merahmatinya-. Beliau adalah seorang yang faqih (paham permasalahan agama) lagi cerdas. Terpercaya dalam hadits. Beliau memiliki (semangat) beribadah dan keutamaan. Beliau termasuk makhluk Allah Azza Wa Jalla yang terbaik. Senantiasa melakukan ribath (berjaga di perbatasan kaum muslimin) (Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 8)

Al-Imam adz-Dzahaby (salah seorang Ulama’ Syafi’iyyah) menyatakan: 

Beliau adalah Imam yang sangat berilmu. Orang yang faqih dalam agama ini. Tanda (syiar-nya) kezuhudan (Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 8)

Tempat Tinggal

Beliau tinggal di negeri Mesir.

Guru-guru Beliau

Beliau mengambil ilmu dari beberapa Ulama’, di antaranya:

  1. Muhammad bin Idris asy-Syafi’i
  2. Ali bin Ma’bad bin Syaddad al-Bashri
  3. Nu’aim bin Hammad, Ulama’ yang pertama kali menyusun kitab al-Musnad.
  4. Ashbagh bin Nafi’

Murid-murid Beliau

Di antara murid beliau yang terkenal adalah:

  1. Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (dikenal dengan Ibnu Khuzaimah), salah seorang guru alBukhari dan Muslim (selain periwayatan hadits dalam Shahihnya) serta Ibnu Hibban al-Bustiy (Ibnu Hibban adalah guru al-Hakim).
  2. Abu Ja’far at-Thohawy, penulis kitab Akidah at-Thohawiyah. At-Thohawy menyatakan: Orang pertama yang aku tulis hadits (Nabi) darinya adalah al-Muzani. Al-Muzani adalah paman at-Thohawy dari jalur ibu.
  3. Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Raziy, penulis kitab tafsir berdasarkan atsar, yang dikenal dengan Tafsir Ibn Abi Hatim. al-Imam Ibnu Katsir banyak mengambil rujukan dari kitab tersebut dalam tafsirnya.

Penolong Madzhab asy-Syafi’i

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan tentang al-Muzani:

الْمُزَنِى نَاصِرُ مَذْهَبِى

Al-Muzani adalah penolong madzhabku (Siyar A’lamin Nubalaa’ karya adz-Dzahaby (12/493), Thobaqot asy-Syafiiyyah al-Kubro karya Tajuddin as-Subkiy (2/94))

Asy-Syafi’i-lah yang mengarahkan al-Muzani untuk menekuni ilmu fiqh. Suatu hari Asy-Syafi’i menyatakan kepada al-Muzani:

فَهَلْ لَكَ فِى عِلْمٍ إِنْ أَصَبْتَ فِيْهِ أُجِرْتَ وَإِنْ أَخْطَأْتَ لَمْ تَأْثَمْ

Apakah tidak sebaiknya kau mempelajari ilmu yang jika engkau benar engkau mendapat pahala, dan jika salah (dalam berijtihad) engkau tidak berdosa?

Al-Muzani berkata: Ilmu apa itu? 

Asy-Syafi’i menyatakan: ilmu fiqh. 

Sejak saat itu al-Muzani berguru fiqh secara intensif kepada asy-Syafi’i.

(Thobaqoot asy-Syafiiyyah al-Kubro karya Tajuddin as-Subkiy (2/98))

Kecerdasan dan Kekuatan Hujjahnya dalam Berdebat

Al-Imam asy-Syafi’i pernah berkata dengan menunjuk pada al-Muzani:

هذَا لَوْ نَاظَرَ الشَّيْطَانَ قَطَعَهُ أَوْ جَدَلَهُ

(Anak) ini kalau (seandainya) mendebat syaithan, niscaya akan mengalahkannya (Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nuaim (9/139)).

Kekuatannya dalam Beribadah

Umar bin Utsman al-Makkiy menyatakan: Saya tidak pernah melihat seseorang yang (kekuatan) ibadahnya dan keistiqomahan ibadahnya seperti al-Muzani (Wafayaat al-A’yan (2/352) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25)

Abu Sa’id bin as-Sukkary menyatakan: Aku pernah melihat al-Muzani, aku tidak melihat orang yang lebih (kuat) beribadah kepada Allah (selain dia) (Wafayaat al-A’yan (2/351) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25).

Yusuf bin Abdil Ahad al-Qummy menyatakan: Saya pernah menemani al-Muzani pada suatu malam, matanya sedang sakit. Dia selalu memperbarui wudhu’ kemudian berdoa. Ketika merasa mengantuk, ia berwudhu’, kemudian berdoa, demikian dilakukan hingga 17 kali (Manaqib asy-Syafi’i karya al-Baihaqy (2/350) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 24).

Senang Memandikan Jenazah

Al-Muzani sangat bersemangat untuk ikut serta memandikan jenazah, sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Adz-Dzahaby menyatakan: Beliau (al-Muzani) suka memandikan jenazah sebagai bentuk ibadah dan mengharapkan pahala (dari Allah), al-Muzani menyatakan: Aku berusaha untuk (selalu) ikut memandikan jenazah untuk melembutkan hatiku, sehingga kegiatan itu kemudian menjadi kebiasaanku (Siyaar A’laamin Nubalaa’ (12/495) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25)

Bahkan beliaulah yang memandikan jenazah al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah bersama arRabi’ bin Sulaiman al-Muroodiy (Wafayaat al-A’yaan (1/218) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25)

Catatan:

Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِينَ مَرَّةً، وَمَنْ حَفَرَ لَهُ فَأَجَنَّهُ أُجْرِىَ عَلَيْهِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِيَّاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَفَنَّهُ كَسَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سُنْدُسِ وَإِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang memandikan seorang muslim kemudian menyembunyikan (aibnya), Allah akan ampuni untuknya 40 kali. Barangsiapa yang menggalikan kubur untuknya kemudian menguburkannya, akan dialirkan pahala seperti pahala memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Barangsiapa yang mengkafaninya, Allah akan memberikan pakaian untuknya pada hari kiamat sutera halus dan sutera tebal dari surga
(H.R alBaihaqy, atThobarony, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

Karya-karya al-Muzani

Semasa hidupnya, al-Muzani telah menghasilkan beberapa karya tulis yang bermanfaat, di antaranya:

  1. Ahkaamul Qur’aan
  2. Ifsaadut Taqliid (kerusakan perbuatan taqlid). Az-Zarkasyi kadang menyebut kitab ini dengan sebutan Fasaadut taqliid, kadang disebut Dzammut Taqliid
  3. Al-Amru wan Nahyu ala Ma’na asy-Syafi’i
  4. atTarghiib fil ‘ilmi
  5. al-Jaami’ul Kabiir
  6. al-Jaami’us Shoghiir
  7. ad-Daqoo-iq wal ‘Aqoorib
  8. Syarhus Sunnah, karya beliau yang kita kaji dalam buku ini.
  9. al-Mabsuuth fil furuu’.
  10. Al-Mukhtasharul Kabiir.
  11. Mukhtasharul mukhtashar, yang dikenal dengan mukhtashar al-Muzani

Abul Abbas as-Suraij menyatakan tentang mukhtashar al-Muzani: Kitab ini adalah pondasi/ induk dari kitab-kitab bermadzhab asy-Syafi’i. Terhadap permisalan-nya mereka mengurutkan, ucapannya mereka jelaskan (al-Waafiy bil wafayaat (9/238) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 43).

Al-Baihaqy menyatakan: Aku tidak mengetahui adanya suatu kitab yang ditulis dalam Islam yang lebih besar manfaatnya, lebih luas keberkahannya, lebih banyak buahnya. Bagaimana tidak, (hal itu didukung oleh) akidahnya (yang benar) dalam agama Allah, dan ibadahnya kepada Allah, kemudian (kesungguhannya) dalam menyusun kitab ini (Manaqib asy-Syafi’i (2/328) melalui Isma’il bin Yahya al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 44).

Al-Muzani menyatakan dalam pembukaan pada Mukhtashar al-Muzani: Aku ringkaskan dalam kitab ini (suatu pengetahuan) yang berasal dari ilmu Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah dan dari makna ucapan-ucapannya. Untuk mendekatkan (pemahaman) kepada yang menginginkannya. Disertai dengan penjelasan larangan untuk bersikap taqlid (fanatisme membabi buta) terhadap beliau (asy-Syafi’i) ataupun selainnya. Untuk dilihat hal itu dalam agamanya, dan agar dijaga untuk dirinya (Mukhtashar al-Muzani fii furuu’isy syaafiiyyah hal 7 cetakan Daarul Kutub al-Ilmiyyah Beirut Lebanon) 

12.  Al-Masaa-ilul Mu’tabaroh

13.  Akidah Ahmad bin Hanbal

14.  Al-Mantsuuroot

15.  Nihaayatul Ikhtishar

16.  Al-Watsaa-iq

17.  Al-Wasaa-il