15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Tafsir » Kewajiban Bersikap Adil kepada Siapapun Sekalipun dalam Membantah Kebatilan

Kewajiban Bersikap Adil kepada Siapapun Sekalipun dalam Membantah Kebatilan

Firman Allah ﷻ:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّ ٰ⁠مِینَ لِلَّهِ شُهَدَاۤءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا یَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰۤ أَلَّا تَعۡدِلُوا۟ۚ ٱعۡدِلُوا۟ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
[المائدة ٨]

”Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (keadilan) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berbuat tidak adil. Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS: Al-Maidah: 8)

Berkata Al Imam Al-Baghawi rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Ma’alimut Tanzil (1/364):

قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ﴾ أَيْ: كُونُوا لَهُ قَائِمِينَ بِالْعَدْلِ قَوَّالِينَ بِالصِّدْقِ، أَمَرَهُمْ بِالْعَدْلِ وَالصِّدْقِ فِي أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمْ

Firman Allah ta’ala: “Wahai orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (keadilan) karena Allah, menjadi saksi dengan adil”; yaitu jadilah kalian orang-orang yang menegakkan keadilan (ikhlas) karena-Nya, dan senantiasa berkata jujur. Allah telah memerintah mereka dengan keadilan dan kejujuran dalam perbuatan mereka dan perkataan  mereka.
(Selesai penukilan)

Kemudian kelanjutan ayat, berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

قال تعالى: (وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى) [المائدة: ٨]

Allah ta’ala berfirman: “Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum mengantarkan kalian berbuat tidak adil, hendaklah kalian berbuat adil karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan.”

وهذه الآية نزلت بسبب بغضهم للكفار، وهو بغض مأمور به، فإذا كان البغض الذي أمر الله به قد نُهي صاحبه أن يظلم من أبغضه، فكيف في بغض مسلم بتأويل أو شبهة أو بهوى نفس؟! فهو أحق أن لا يُظلَمَ، بل يعدل عليه

Ayat ini turun disebabkan kebencian mereka (para sahabat) kepada orang-orang kafir. Dan itu adalah kebencian yang memang diperintahkan menerapkannya. Sehingga apabila kebencian kepada mereka yang memang diperintahkan oleh Allah, dilarang pelakunya untuk berbuat dzalim kepada sasaran yang mereka benci, lalu bagaimana kebencian kepada seorang muslim (yang dia salah) akibat
– ta’wil (salah penafsiran),
– syubuhat (kesamaran) atau
– hawa nafsu?
Tentu ia lebih berhak untuk tidak boleh didzalimi bahkan pelakunya harus berbuat adil terhadapnya.

Pada paragraf sebelumnya, beliau rahimahullah menjelaskan:

ومعلوم أنا إذا تكلمنا فيمن هو دون الصحابة، مثل الملوك المختلفين علی الملك، و العلماء و المشايخ المختلفين في العلم و الدين، وجب أن يكون الكلام بعلم و عدل  لا بجهل و ظلم، فإن ‏العَدْلَ واجبٌ لكل أحدٍ، في كلِ أحدٍ، في كلِ حالٍ، والظلمُ محرمٌ مطلقاً، لا يُباحُ قط بحالٍ

Dan telah diketahui bahwa apabila kita berbicara tentang orang-orang yang (kedudukannya) di bawah para Sahabat, seperti para raja yang mereka berselisih tentang kerajaan dan para ulama maupun para syaikh yang berselisih dalam masalah ilmu dan permasalahan agama, (mereka semua) wajib membangun perkataannya berdasarkan ilmu dan sifat adil, bukan dengan kebodohan dan kedzaliman. Sehingga sungguh sikap adil wajib bagi semua orang, kepada setiap orang, dan pada setiap keadaan. Sedangkan kedzaliman (kepada manusia) diharamkan secara mutlak, dan tidak diperbolehkan dalam keadaan apapun sama sekali. (Minhajus Sunnah: 5/126)


Artikel lain yang bermanfaat: Kasih Sayang dan Keadilan Ahlussunnah kepada Para Makhluk Allah

 


Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga telah menjelaskan dalam tafsirnya:

وقوله : (ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا) أي : لا يحملنكم بغض قوم على ترك العدل فيهم ، بل استعملوا العدل في كل أحد، صديقا كان أو عدوا ; ولهذا قال : (اعدلوا هو أقرب للتقوى) أي : عدلكم أقرب إلى التقوى من تركه

Firman Allah: “Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum mengantarkan kalian berbuat tidak adil” Yaitu: Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum menjadikan kalian meninggalkan bersikap adil terhadap mereka, bahkan berbuat adillah terhadap siapapun, baik terhadap sahabat dekat ataupun musuh. Oleh sebab itu Dia berfirman:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan”

yaitu: keadilan kalian lebih dekat kepada ketaqwaan daripada kalian meninggalkan sikap adil.

(Tafsir Ibnu katsir 3/62)


baca juga: Mengedepankan Persangkaan Baik terhadap Seorang Muslim yang Dzhahirnya Menampakkan Keadilan


Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah dalam tafsirnya terhadap ayat ke-8 dalam surah Al-Maidah mengisyaratkan (tanpa menyebutkan) tentang kisah Abdullah bin Rawahah radiyallahu ‘anhu bersama kaum Yahudi, bagaimana sikap adil beliau dan persaksian kaum Yahudi tentang sifat keadilan.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، أَنَّهُ قَالَ : أَفَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْبَرَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقَرَّهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا كَانُوا، وَجَعَلَهَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، فَبَعَثَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ رَوَاحَةَ، فَخَرَصَهَا عَلَيْهِمْ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ : يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ، أَنْتُمْ أَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَيَّ، قَتَلْتُمْ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكَذَبْتُمْ عَلَى اللَّهِ، وَلَيْسَ يَحْمِلُنِي بُغْضِي إِيَّاكُمْ عَلَى أَنْ أَحِيفَ عَلَيْكُمْ، قَدْ خَرَصْتُ عِشْرِينَ أَلْفَ وَسْقٍ مِنْ تَمْرٍ، فَإِنْ شِئْتُمْ فَلَكُمْ، وَإِنْ أَبَيْتُمْ فَلِي. فَقَالُوا : بِهَذَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، قَدْ أَخَذْنَا، فَاخْرُجُوا عَنَّا
حكم الحديث: إسناده قوي على شرط مسلم

Dari Jabir bin Abdillah radiyallahu ‘anhu dia berkata:

Allah azza wa jalla menjadikan area Khaibar sebagai harta Fai’ (yang didapatkan dari orang kafir tanpa peperangan) bagi Rasulullah ﷺ. Maka Rosulullah ﷺ menyetujui tetap dikelolanya (kebun-kebun kurma oleh masyarakat Yahudi) sebagaimana telah berlangsung sebelumnya. Beliau ﷺ juga membagi porsi bagian beliau dan mereka. Sehingga beliau ﷺ mengutus Abdullah bin Rawahah radiyallahu ‘anhu maka dia memperkirakan bagian (dengan adil) bagi mereka.

Dan dia berkata: “Wahai sekalian orang-orang Yahudi, kalian adalah manusia yang paling aku benci, kalian telah membunuh para Nabi (utusan) Allah Azza wa Jalla, dan kalian telah berdusta atas nama Allah. Hanya saja tidaklah kebencianku kepada kalian mendorongku untuk mendzalimi kalian dalam pembagian, sungguh aku telah menakar 20 ribu wasaq (1 wasaq= 60 sha’. 1 sha’=2,5 kg kurang lebih -pent) kurma. Jika kalian mau untuk mengambilnya maka itu untuk kalian, jika kalian tidak sudi mengambilnya maka akan aku ambil.”

Maka mereka (orang-orang Yahudi) mengatakan: “Dengan (keadilan semacam) inilah langit-langit dan bumi menjadi tegak. Sungguh kami akan mengambilnya, maka berikanlah bagian kami itu.”

(HR. Ahmad: 14953. juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 5199, dari sahabat Ibnu Umar radiyallahu anhuma)

Kemudian mengenai kelanjutan ayat, Asy Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Dan bertaqwalah kalian kepada Allah

Setelah kita diperintahkan agar menjadi orang-orang yang menegakkan (persaksian karena Allah dengan keadilan) dan melarang kita terbawa kebencian dan meninggalkan sikap adil, kemudian diperintah untuk berbuat adil. Dan Dia berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Bertaqwalah kalian kepada Allah”, dan ini sebagai penutup bagi yang sebelumnya.

إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang kalian kerjakan” dalam kalimat ini kami mengatakan seperti apa yang telah kami katakan sebelumnya pada ayat:

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa saja yang ada didalam dada (hati)”

yaitu: Sesungguhnya pada kalimat ini terkandung ancaman keras bagi penyelisihan terhadap ketaqwaan.

Sementara Firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah maha mengetahui secara detail” 

Mereka (para ahli tafsir) mengatakan, ‘Sesungguhnya al Khobir lebih detail/rinci dari Al ‘Alim (maha mengetahui), dikarenakan Ia -al Khobir- (berasal) dari kata Al Khubru yang maknanya mengetahui perkara-perkara batin. Oleh karena itu dinamakan petani yang mereka banyak menanam sebagai Khobir dan dinamakan para penggarap sawah dengan bagi hasil sebagai Mukhobaroh, dikarenakan mereka yang menutupi biji-bijian di dalam tanah hingga ia tertutup dan tersembunyi. Jadi Al Khobir maknanya adalah yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi.

بِمَا تَعْمَلُونَ

“Terhadap apa saja yang kalian kerjakan”, yaitu apa saja yang kalian kerjakan dari perkataan dan perbuatan.

Adapun faedah dari penyebutan (lafdzul jalalah) Allah (dalam ayat ini) agar kita istikamah diatas perintah-Nya. Dikarenakan jika kita menyelisihi perintah-Nya maka sesungguhnya Dia senantiasa mengetahui (seluruh keadaan) kita subhanahu wa ta’ala.”

(Tafsir Surah Al Maidah 1/147)


Artikel bermanfaat lainnya: Menghindari Majelis Perdebatan yang Tidak Memberi Faidah Ilmu


Catatan Ringkas

Demikian pula ketika seseorang ingin membantah kebatilan dari manapun datangnya harus dibangun di atas kebenaran dan sikap adil.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata:

فَالتَّحْذِيْرُ مِنْ أَهْلِ الْبَاطِلِ أَمْرٌ وَاجِبٌ، لَكِنْ يَكُوْنُ بِالْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ وَالحُجَّةِ وَالْبُرْهَانِ، لَا بِالسَّفَاهَةِ وَالطَّيْشِ

“Memperingatkan dari bahaya para pengusung kebatilan merupakan perkara yang wajib. Namun hal itu harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, hujjah, dan bukti. Bukan dengan kedunguan dan sikap yang sembrono.” (Al-Lubab min Majmu’ an-Nashaih lis Syabab: 184)

Beliau hafizhahullah juga berkata:

الَّذِي نَعْرفُ عن اهلِ السنةِ العدْل و الإنْصَاف فإذا بدَّعوا أحدًا من الناسِ فإنما يُبدِّعونه بِحقٍّ

“Yang kami ketahui dari Ahlus sunnah adalah sikap adil dan inshof (sportif) apabila mereka menghukumi seorang manusia sebagai pelaku bid’ah, maka mereka menghukuminya dengan kebenaran.” (Majmu’ah Kutub wa ar-Rasail :10/138. lihat kitab Ushul wal Mumayyizat Ahlis Sunnah: 443)

Oleh karena itu para pewaris ilmu para Nabi di setiap zaman mereka pertama kali disifati dengan Ilmu dan keadilan sebelum sifat membantah dan menyingkap kebatilan. Nabi ﷺ bersabda:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ

“Ilmu (agama) ini akan senantiasa diemban pada setiap generasi oleh orang-orang yang adilnya (tugas mereka adalah) menghilangkan darinya penyimpangan dalil oleh kaum yang ekstrim (ahlul bid’ah) dan kedustaan para pembawa kebatilan, dan ta’wil orang-orang yang bodoh.” (HR. Al Baihaqi. lihat takhrij Al-Imam Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih: 248)

Kebalikannya, hendaknya waspada dan menjauhi golongan manusia yang sifat pertama muncul dari sifat mereka suka berdebat dan membantah yang dibangun di atas kebodohan, permusuhan, kedustaan, kedzaliman serta jauh dari ilmu dan akhlak pembawa ilmu dan jauh dari sifat adil.

Wallahul musta’an

Penulis:
Abu Ali Zain