Sen, 22 Jumadil awal 1448 H (2 Nov 2026 M)
Beranda » Latest » Artikel » Manhaj » Menjaga Kehormatan Negeri Dimulai dari Lisan: Mengapa Menggunjing Pemerintah Berdampak Fatal?

Menjaga Kehormatan Negeri Dimulai dari Lisan: Mengapa Menggunjing Pemerintah Berdampak Fatal?

0
Photo by mollyroselee

Pertanyaan:

Marak terjadi pada zaman ini perbuatan ghibah (menggunjing) para penguasa (pemerintah). Apa hukum ghibah terhadap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – semoga Allah merahmati beliau-:

Ghibah terhadap para penguasa adalah haram dari dua sisi:

Sisi Pertama: Bahwa itu adalah ghibah terhadap seorang muslim, padahal Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :
“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat ayat 12)

Sisi Kedua: Bahwa ghibah terhadap penguasa dapat menimbulkan keburukan dan kerusakan yang tidak ditimbulkan oleh ghibah terhadap orang biasa. Sebab, jika seseorang yang biasa digunjing, maka cacatnya hanya berdampak pada dirinya sendiri. Akan tetapi, jika seorang penguasa yang digunjing, hal itu akan berakibat pada kebencian masyarakat kepadanya, pembangkangan terhadapnya, serta ketidakmauan mereka menerima arahan dan perintahnya. Ini adalah bahaya besar yang memicu kekacauan (anarki), dan situasi bahkan bisa berujung pada pertumpahan darah di antara sesama manusia.

Adapun mengenai penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka penjelasannya adalah:

Hukumnya diingkari, namun tidak diingkari secara terang-terangan (di muka publik). Mengingkarinya secara terang-terangan sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Yang benar adalah, pengingkaran itu disampaikan langsung kepada sang penguasa secara empat mata, atau dengan cara menulis surat nasihat kepadanya.

Jika seseorang mampu menemui penguasa secara langsung, itulah yang diharapkan (yang utama). Namun jika tidak mampu, ia bisa menulis nasihat tersebut dan menyerahkannya kepada orang yang bisa menyampaikannya kepada penguasa.

Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, Pertemuan [120]

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

السؤال: كثرت في هذه الأزمان غيبة ولاة الأمور فما حكم غيبة الحاكم الذي لم يحكم بما أنزل الله؟

أجاب عنه الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى: غيبة ولاة الأمور محرمة من وجهين: الوجه الأول: أنها غيبة مسلم، وقد قال الله تعالى : ﴿ وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً ﴾[الحجرات:12]. الوجه الثاني: أن غيبة ولاة الأمور يترتب عليها من الشرور والفساد ما لا يترتب على غيبة الرجل العادي؛ لأن الرجل العادي إذا اغتيب فإنما عيبه على نفسه, لكن ولي الأمر إذا اغتيب لزم من ذلك كراهة الناس له, وتمردهم عليه, وعدم تقبل توجيهاته وأوامره, وهذه مضرة عظيمة توجب الفوضى، وربما يصل الحال إلى القتال فيما بين الناس. وأما من لم يحكم بما أنزل الله, فيقال: ينكر الحكم بغير ما أنزل الله, ولا ينكر علناً؛ لأنه لا فائدة من إنكاره علناً وإنما ينكر على الحاكم نفسه, ويكتب إليه بذلك. فإن كان الإنسان يستطيع أن يصل إلى الحاكم بنفسه فهذا المطلوب, وإلا كتب النصيحة وأعطاها من يوصلها إلى الحاكم

المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [120]

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman