15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Ibadah » Untaian Nasihat Syaikh Utsaimin Terkait Kedatangan Ramadhan Bagian Pertama: Menunaikan Zakat Dengan Sebaik-Baiknya

Untaian Nasihat Syaikh Utsaimin Terkait Kedatangan Ramadhan Bagian Pertama: Menunaikan Zakat Dengan Sebaik-Baiknya

Pertanyaan:

Terkait dengan datangnya bulan Ramadhan yang diberkahi, bulan yang penuh dengan ibadah dan ketaatan ini; akan sangat baik apabila anda berkenan menyampaikan beberapa nasihat sebagai arahan bagi segenap muslimin pada kesempatan kali ini. Semoga Allah menjaga anda dan memberikan pertolongan dan taufik-Nya untuk anda.

Beliau rahimahullah berkata:

Nasihat yang ingin aku sampaikan kepada segenap kaum muslimin ialah sebagai berikut:

Sesungguhnya bulan ini terkandung padanya 3 jenis ibadah yang sangat agung, yaitu zakat, puasa, dan shalat.

Terkait dengan zakat maka sesungguhnya mayoritas orang menunaikan pembayaran zakatnya di bulan (Ramadhan) ini. (Maka aku nasihatkan bahwa) wajib bagi seseorang untuk menunaikan zakatnya dengan penuh amanah. Dia juga harus menyadari bahwa zakat tersebut merupakan ibadah dan salah satu kewajiban dalam Islam yang membuatnya semakin dekat dengan Rabbnya. Dengan melaksanakannya pula berarti ia telah menunaikan salah satu dari rukun Islam yang agung.

Zakat bukanlah suatu kerugian sebagaimana yang digambarkan oleh setan. Allah sebutkan hal itu dalam firman-Nya,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan menakut-nakuti kalian dengan kefakiran dan memerintahkan kepada perbuatan keji. Sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dan keutamaan dari-Nya. Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui
(QS. Al-Baqarah: 268)


Baca Juga: Kajian Zakat: Definisi, Kedudukan, dan Keutamaan Zakat


Bahkan sebaliknya, zakat merupakan sebuah keuntungan besar. Karena Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Permisalan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah laksana sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya terdapat seratus biji. Dan Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui
(QS. Al-Baqarah: 261)

Allah juga berfirman:

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan permisalan orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam rangka meraih keridaan Allah dan atas keyakinan yang kuat dari diri mereka layaknya sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh air hujan yang lebat sehingga menghasilkan bebuahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya maka ada embun. Dan Allah Mahamelihat apa yang kalian kerjakan
(QS. Al-Baqarah: 265)


Baca Juga: Zakat Emas, Perak, dan Uang


Kemudian (yang perlu diperhatikan pula) hendaknya dia mengeluarkan zakat pada seluruh hartanya yang telah terkena kewajiban zakat, yang banyak maupun yang sedikit. Hendaknya dia benar-benar mengintrospeksi dirinya sehingga dia tidak akan meninggalkan satupun hartanya yang telah terkena kewajiban zakat kecuali telah dia bayarkan zakatnya. Demikian agar kewajibannya menjadi gugur dan dia terbebas dari ancaman yang keras.

Allah telah sebutkan tentang hal tersebut dalam ayat-Nya:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Dan janganlah orang-orang yang kikir pada apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa hal itu merupakan kebaikan bagi mereka. Bahkan itu adalah keburukan bagi mereka. Kelak Allah akan kalungkan apa yang mereka kikirkan itu pada hari kiamat. Dan hanya milik Allah-lah warisan (segala) yang ada di langit dan bumi (setelah kehancurannya). Dan Allah Mahamengetahui dengan teliti apa yang kalian lakukan
(QS. Ali Imran: 180)

Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak lalu tidak mengeluarkannya di jalan Allah, berikan kabar gembira kepada mereka dengan adzab yang pedih. Di hari kiamat mereka dipanaskan di api Jahannam, lalu disetrika dahi, sisi tubuh, dan punggung mereka. (Kemudian dikatakan kepada mereka), inilah yang kalian simpan untuk diri kalian (tidak kalian keluarkan zakatnya). Rasakanlah adzab (akibat) simpanan kalian itu
(QS. at-Taubah 34-35)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai penjelasan ayat yang pertama (QS. Ali Imran: 180):

مَن آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ له مَالُهُ يَومَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أقْرَعَ له زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَومَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِي بشِدْقَيْهِ – ثُمَّ يقولُ أنَا مَالُكَ أنَا كَنْزُكَ

Barang siapa yang Allah berikan harta kepadanya namun dia tidak menunaikan zakatnya maka pada hari kiamat hartanya akan dirupakan menjadi seekor ular yang berbisa dan memiliki dua taring, lalu ular itu akan melilitnya pada hari kiamat. Kemudian ular itu akan memakannya dengan kedua rahangnya dan berkata: ‘Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu’
(HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, pent)

Dan pada ayat yang kedua, Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّى فِيهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِىَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ ثُمَّ يُرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

Tidaklah pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya kecuali pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan logam dari api yang dipanaskan di Neraka Jahannam. Kemudian disetrikakan pada sisi tubuh, dahi, dan punggungnya. Setiap kali dingin, diulangi kembali. Pada hari yang kadarnya adalah 50 ribu tahun hingga ditetapkan keputusan untuk para hamba sehingga terlihat jalan (akhirnya) apakah ke Surga atau ke Neraka
(H.R Muslim dari Abu Hurairah, pent)


Baca juga: Kriteria Fakir Miskin yang Berhak Menerima Zakat


(Hal yang perlu diperhatikan pula ialah) seseorang yang menunaikan zakat, wajib memberikannya kepada orang yang berhak. Tidaklah boleh ia membagi zakat berdasarkan kebiasaan. Janganlah ia mengeluarkan zakat hanya agar dirinya tidak dianggap sebagai orang yang kikir. Dan jangan pula menjadikan harta yang dia keluarkan sebagai penggugur kewajiban lain pada selain zakat. Dengan itu semua diharapkan zakatnya menjadi zakat yang diterima (di sisi Allah).

Sumber: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin (19/32-35)

Naskah asli dalam bahasa arab:

السؤال:
سئل فضيلة الشيخ -رحمه الله تعالى-: بمناسبة قدوم شهر رمضان المبارك موسم العبادات والطاعات حبذا لو تفضلتم ووجهتم كلمة للمسلمين بهذه المناسبة، والله يحفظكم ويرعاكم ويمدكم بعونه وتوفيقه؟
الجواب:
الكلمة التي أوجهها للمسلمين هو إن هذا الشهر يشتمل على ثلاثة أصناف من العبادات الجليلة، وهي: الزكاة، والصيام، والقيام.
أما الزكاة فإن غالب الناس أو كثير منهم يؤدون زكاتهم في هذا الشهر، والواجب على المرء أن يؤدي الزكاة بأمانة، وأن يشعر بأنها عبادة وفريضة من فرائض الإسلام، يتقرب بها إلى ربه ويؤدي ركناً من أركان الإسلام العظيمة، وليست مغرماً كما يصوره الشيطان الذي وصفه الله بقوله: ﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: 268]
بل هي غنيمة؛ لأن الله يقول: ﴿مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة: 261] ويقول سبحانه وتعالى: ﴿وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾ [البقرة: 265] .
ثم عليه أن يخرج الزكاة عن كل قليل وكثير تجب فيه الزكاة، وأن يحاسب نفسه محاسبة دقيقة، فلا يهمل شيئاً مما تجب فيه الزكاة، إلا وأخرج زكاته من أجل أن يبرئ ذمته، ويخلصها من الوعيد الشديد، الذي قال الله تعالى فيه: ﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾ [آل عمران: 180] . وقوله: ﴿وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ﴾ [التوبة: 34-35] .
قال النبي عليه الصلاة والسلام في تفسير الآية الأولى: «مَن آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ له يَومَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أقْرَعَ له زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَومَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِي بشِدْقَيْهِ – ثُمَّ يقولُ أنَا مَالُكَ أنَا كَنْزُكَ» .
أما الآية الثانية ففسرها النبي عليه الصلاة والسلام بقوله: « مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّى فِيهَا حَقَّهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِىَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ ثُمَّ يُرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ» ويجب أن يؤتيها مستحقها، فلا يدفعها كعادة اعتاد أن يدفعها، ولا يدفع بها مذمة عن نفسه، ولا يسقط بها واجباً في غير الزكاة حتى تكون زكاة مقبولة.

Diterjemahkan oleh:
Abu Dzayyal Muhammad Wafi