Di tengah kehidupan masyarakat, tidak jarang muncul ketidak puasan terhadap kebijakan pemerintah. Ada yang menyampaikannya dengan cara yang baik, namun ada pula yang terjatuh dalam celaan, penghinaan, bahkan tindakan yang dapat menimbulkan kekacauan. Dalam keadaan seperti ini, seorang Muslim perlu bertanya: bagaimana sikap yang benar ketika penguasa melakukan kesalahan atau bahkan berlaku zalim?
Salah satu pelajaran berharga dapat kita lihat dari kehidupan Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari generasi Tabi’in. Beliau lahir pada tahun 21 H dan wafat pada tahun 110 H. Beliau dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya, kuat ibadahnya, zuhud, fasih dalam berbicara, serta sangat dalam nasihatnya.
Ketika Berhadapan dengan Penguasa Zalim
Pada masa beliau hidup, terdapat pejabat bernama al-Hajjaj bin Yusuf yang terkenal keras dan banyak melakukan kezaliman. Keadaan tersebut membuat sebagian kaum Muslimin ingin melakukan perlawanan bersenjata. Ketika terjadi pemberontakan Ibn al-Asy’ats terhadap al-Hajjaj, sebagian orang meminta pendapat al-Hasan al-Bashri rahimahullah. Mereka mengetahui berbagai kezaliman al-Hajjaj, lalu mengajak untuk memeranginya. Namun al-Hasan al-Bashri tidak menyetujui jalan tersebut. Beliau berkata:
أَرَى أَلَّا تُقَاتِلُوهُ، فَإِنْ تَكُنْ عُقُوبَةً مِنَ اللَّهِ، فَمَا أَنْتُمْ بِرَادِّي عُقُوبَةَ اللَّهِ بِأَسْيَافِكُمْ، وَإِنْ يَكُنْ بَلَاءً فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ
“Menurutku, janganlah kalian memeranginya. Jika itu merupakan hukuman dari Allah, kalian tidak akan mampu menolak hukuman Allah dengan pedang kalian. Jika itu merupakan ujian, maka bersabarlah sampai Allah memberikan keputusan.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa beliau tidak menjadikan kebencian terhadap kezaliman sebagai alasan untuk menyalakan pemberontakan.
Namun, jangan pula dipahami bahwa al-Hasan al-Bashri membenarkan kezaliman. Beliau tetap mengingkari kemungkaran dan berani menyampaikan kebenaran. Jadi, sikap beliau bukanlah diam terhadap kesalahan, tetapi memilih jalan yang menurut beliau lebih jauh dari fitnah dan pertumpahan darah.

Antara Nasihat dan Pemberontakan
Di sinilah terdapat pelajaran penting. Mengingkari kemungkaran tidak selalu berarti mengangkat senjata. Menolak kezaliman tidak berarti bebas mencela. Dan tidak menyetujui suatu kebijakan tidak berarti boleh merusak persatuan.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah memahami bahwa sebuah perubahan harus ditempuh dengan ilmu dan hikmah. Kemarahan yang tidak dikendalikan dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang justru menghasilkan kerusakan lebih besar. Beliau pernah mengingatkan:
إِنَّ اللَّهَ إِنَّمَا يُغَيِّرُ بِالتَّوْبَةِ، وَلَا يُغَيِّرُ بِالسَّيْفِ
“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan melalui taubat, bukan dengan pedang.”
Maka seorang Muslim tidak boleh hanya bertanya, “Apakah saya tidak suka dengan keadaan ini?” tetapi juga harus bertanya, “Apakah cara yang saya tempuh benar-benar diridhai Allah dan membawa perbaikan?”
Pelajaran untuk Santri
Kisah Hasan al-Bashri rahimahullah sangat relevan untuk kita renungkan, terlebih ketika masyarakat sedang ramai membicarakan pemerintah dan berbagai kebijakannya.
Seorang santri tidak boleh menjadikan ketidaksetujuan sebagai alasan untuk mencela. Ketika mendengar berita, ia tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Ketika melihat kesalahan, ia berusaha menasihati dengan ilmu dan adab. Ketika hatinya marah, ia tidak membiarkan kemarahan menguasai dirinya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. al-Ahzab: 70)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih)
Karena itu, kritik tidak boleh berubah menjadi celaan, nasihat tidak boleh berubah menjadi penghinaan, dan ketidaksetujuan tidak boleh berubah menjadi kebencian.

Merdeka dengan Adab
Momentum kemerdekaan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keamanan dan kehidupan bersama. Namun kemerdekaan tidak berarti bebas berbicara tanpa batas.
Lisan seorang santri bukan untuk mencela. Tangannya bukan untuk merusak. Hatinya bukan untuk dipenuhi kebencian.
Jika melihat kesalahan, sampaikan dengan ilmu. Jika melihat kemungkaran, ingkari dengan cara yang benar. Jika tidak mampu mengubah keadaan, jangan biarkan hati dipenuhi kebencian dan jangan ikut menyebarkan fitnah.
Belajarlah dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah: tegas dalam memegang kebenaran, tetapi tidak mudah terseret emosi; tidak membenarkan kezaliman, tetapi juga tidak menyalakan pemberontakan. Sebab, tidak setiap kemarahan menghasilkan perubahan, tidak setiap perlawanan menghasilkan perbaikan, dan tidak setiap suara yang keras menunjukkan keberanian.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki para pemimpin kaum Muslimin, memberikan mereka petunjuk dan keadilan, serta menjadikan kita rakyat yang mampu menasihati dengan hikmah, menjaga lisan, dan menjauhi fitnah.
Referensi:
Al-Qur’an al-Karim
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
Ibnu Sa’d, ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 7
Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, jilid 4
Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah
Penulis: Abdil Barr, Situbondo