Abu Musa Al-Asy’ariy: Suara Indah Dalam Lantunan AlQuran

Orang-orang Asy’ariy – salah satu kabilah dari Yaman – dikenal gemar membaca alQuran saat di perjalanan mereka. Lantunan mereka terutama saat salat malam, seakan menjadi ciri khas mereka. Mereka diajari bacaan Quran oleh Abu Musa al-Asy’ariy, orang terbaik dan terindah bacaan Qurannya di antara mereka. Mereka juga dikenal pemberani dalam medan pertempuran. Tidak gentar dan tidak mundur saat berhadapan dengan musuh. Tahan dan sabar dalam menghadapi penderitaan saat berperang. Memiliki sikap berbagi dan empati dalam menanggung kesulitan bersama.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya orang-orang Asy’ariy jika kehabisan bekal dalam pertempuran atau tinggal sedikit makanan untuk keluarga mereka di Madinah, mereka mengumpulkan sisa-sisa makanan mereka di suatu kain, kemudian mereka membagikan ke sesama mereka pada satu bejana dengan takaran yang sama. Mereka adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka.
(H.R Muslim)
Salah satu orang Asy’ari terbaik adalah Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu anhu. Abdullah bin Qoys merupakan nama aslinya.
Abu Musa al-Asy’ariy pernah mengumandangkan bacaan alQuran saat di rumahnya di suatu malam. Nabi shollallahu alaihi wasallam yang lewat di dekat rumahnya mendengar dan menyimak. Suara bacaan itu sangat indah.
Keesokan harinya, Nabi shollallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa Abu Musa seakan-akan diberi seruling*) Nabi Dawud alaihissalam. Karena demikian indah suaranya ketika melantunkan bacaan alQuran. Abu Musa pun menyatakan bahwa jika seandainya ia mengetahui bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam menyimak bacaannya, ia akan hidangkan bacaan yang lebih indah lagi.
baca artikel menarik lainnya:
Membaca Al Quran dan Dzikir dalam Keadaan Berdiri, Duduk ataupun Berbaring
Mengkhatamkan AlQuran Setiap Pekan itu Sudah Ringan Sekali Bagi Mereka
Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu anhu pernah didoakan oleh Nabi untuk mendapatkan ampunan Allah dan mendapat tempat kemuliaan di akhirat
Hal itu tersebutkan dalam hadits Shahih Muslim. Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu anhu mengisahkan:
Ketika Nabi shollallahu alaihi wasallam selesai dari Hunain beliau mengutus Abu Amir menjadi pemimpin pasukan menuju Awthoos. Kemudian ia bertemu dengan Duraid bin as-Shimmah. Terbunuhlah Duraid bin as-Shimmah. Kemudian Allah membuat kalah pasukan yang bersamanya (Duraid).
Abu Musa berkata: Nabi juga mengutusku bersama Abu Amir. Kemudian Abu Amir terpanah pada lututnya. Panah itu dilepaskan oleh seorang laki-laki dari Bani Jusyam. Panah itu menancap pada lutut Abu Amir. Aku pun mendekat kepada Abu Amir dan berkata: Wahai pamanku, siapakah yang telah memanah anda? Abu Amir pun menunjukkan kepada Abu Musa dengan berkata: Sesungguhnya orang itu yang (berupaya) membunuhku. Lihatlah orang itu yang memanahku. Abu Musa berkata: Aku pun menuju orang itu. Ketika ia melihatku, ia berbalik pergi. Aku pun mengejarnya sambil berteriak: Tidakkah engkau malu? Bukankah engkau orang Arab (yang tidak seharusnya bersikap pengecut, pent)? Tidakkah sebaiknya engkau tetap di tempatmu? Ia pun berhenti. Aku pun bertarung dengan dia, berjual beli sabetan pedang. Hingga aku pun membunuhnya.
Kemudian aku kembali kepada Abu Amir dan berkata: Sesungguhnya Allah telah membunuh musuhmu itu. Abu Amir berkata: Cabutlah panah ini. Aku pun mencabutnya. Mengalirlah cairan (dari luka itu). Kemudian Abu Amir berkata: Wahai putra saudaraku, pergilah menuju Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, sampaikan salam dariku. Katakan kepada beliau: Abu Amir berkata kepada anda: Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku. Abu Amir pun menugaskan aku (memimpin) orang-orang. Ia terdiam sebentar, kemudian meninggal.
Ketika aku kembali kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam, aku masuk ke tempat beliau saat beliau di sebuah rumah di atas dipan tikar (anyaman pelepah kurma) yang di atasnya terdapat tempat tidur. Tikar itu mengguratkan bekas di punggung dan 2 sisi tubuh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.
Kemudian aku mengabarkan kepada beliau keadaan kami dan keadaan Abu Amir. Aku berkata kepada beliau: Ia (Abu Amir) meminta agar Rasul memohonkan ampunan untuknya. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam minta diambilkan air untuk berwudhu dengannya. Kemudian beliau mengangkat kedua tangan beliau dan berkata: “Ya Allah ampunilah Ubaid Abu Amir”. Hingga aku melihat putihnya kedua ketiak beliau. Kemudian Nabi berkata: “Ya Allah jadikanlah ia pada hari kiamat berada di atas kebanyakan makhluk-Mu atau manusia”.
Aku (Abu Musa) berkata: Untuk saya juga, wahai Rasulullah, mohonkan ampunan. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah ampunilah dosa Abdullah bin Qoys, masukkan ia ke tempat yang mulia pada hari kiamat”. Abu Burdah berkata: Salah satu doa Nabi untuk Abu Amir dan doa yang satunya lagi untuk Abu Musa.
(H.R Muslim)
Dikutip dari buku “Ayo Menghafal alQuran [Kumpulan Motivasi dan Kisah Ulama dalam Menghafal dan Menjaga Hafalan al-Quran]”, karya Abu Utsman Kharisman, penerbit Pena Hikmah
Ralat pada buku cetakan:
Di halaman 77 tertulis: Ketika Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selesai dari Hunain beliau mengutus Amir menjadi pemimpin pasukan menuju Awthoos.
Seharusnya: Ketika Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selesai dari Hunain beliau mengutus Abu Amir menjadi pemimpin pasukan menuju Awthoos.
Catatan kaki:
*) Al Hafidz An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud sebagai seruling dalam konteks ini adalah suara yang indah, dan memang (secara bahasa) asal kata الزَّمْرِ adalah nyanyian.”
(Syarh Shohih Muslim 6/80)