4 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Ibadah » Memohon Ampunan di Waktu Sahur

Allah subhanahu wata’ala memuji hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan di waktu sahur dalam firman-Nya:

ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٦ ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ ١٧

(Orang-orang yang bertakwa) ialah yang berucap, ‘wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari adzab neraka’. Mereka adalah orang-orang yang bersabar, yang berperilaku jujur, banyak melakukan ketaatan, banyak berderma, dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur.
(QS. Ali Imran: 16-17)

Dalam ayat yang lain Allah menyebutkan di antara sifat orang-orang bertakwa yang mendapatkan surga dengan kebun-kebun dan mata air di dalamnya ialah:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan mereka memohon ampunan di waktu sahur
(QS. Adz-Dzariyat: 18)

Waktu sahur yang berada di sepertiga malam terakhir merupakan waktu terkabulnya sebuah doa. Saat itu Allah subhanahu wata’ala turun ke langit dunia menyeru para hamba agar bergegas memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada-Nya.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan permintaannya. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka akan Aku ampuni dia’.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)


Artikel terkait yang semoga bermanfaat: Faktor-Faktor Pendukung Terkabulnya Doa


Istighfar Sebagai Penangkal Ujub

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya ketika membawakan ayat dalam surah Ali Imran di atas:

Ketika Allah menyebutkan berbagai perangai mulia yang mereka miliki (sabar, jujur, banyak melakukan ketaatan, dan dermawan) disebutkan setelahnya bahwa mereka adalah orang-orang yang menganggap rendah diri-diri mereka.

Mereka juga memandang tidak pantas mendapatkan pujian ataupun kedudukan yang mulia. Bahkan mereka menganggap diri-diri mereka penuh dosa lagi banyak melalaikan kewajiban. Oleh sebab itu mereka memohon ampunan kepada Allah dan mereka menepatkan hal itu pada waktu diterimanya sebuah doa, yaitu waktu sahur.

(Taisir al-Karim ar-Rahmaan, Tafsir Surah Ali Imran ayat ke-17)

Dalam sehari di bulan Ramadhan begitu banyak amal kebaikan yang Allah mudahkan untuk kita. Puasa, shalat malam, tilawah alQuran, sedekah, dan lain sebagainya. Namun hal itu tak lantas membuat kita merasa telah mempersembahkan yang terbaik untuk Allah. Sungguh pantas bila kita tengadahkan tangan di akhir malam saat kita terbangun untuk bersantap sahur, memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang amalan kebaikan kita tak sebanding banyaknya dengan dosa-dosa tersebut.


Artikel terkait yang semoga bermanfaat:


Keteladanan Salaf

Ketika menjelaskan ayat ke-17 dari Surah Ali Imran di atas, al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan kisah keteladanan dari para sahabat Nabi yang berupaya menantikan waktu sahur untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah.

Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Umar. Beliau biasa melaksanakan shalat di malam hari. Hingga saat dirasa waktu sahur telah dekat beliau bertanya kepada budaknya, ‘Wahai Nafi’, apakah sudah tiba waktu sahur?’ Apabila Nafi’ menjawab ‘ya’ maka beliau segera bermunajat kepada Allah seraya memohon ampunan hingga datang waktu shalat subuh.¹)

Anda masih ingat kisah antara Nabi Ya’qub alaihissalam dengan putra-putra beliau? Di penghujung kisah, saat putra-putranya menyadari kesalahan mereka dan menyesal lantaran perbuatan buruk mereka kepada ayahanda mereka dan adik mereka Yusuf alaihissalam, mereka memohon kepada sang ayah agar memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka.

قَالُوْا يٰٓاَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَآ اِنَّا كُنَّا خٰطِـِٕيْنَ ٩٧ قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٩٨

Mereka berkata, ‘wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berbuat kesalahan’. Ya’qub berkata, ‘aku akan mohonkan ampunan untuk kalian kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.
(QS. Yusuf: 97-98)

Para ulama ahli tafsir seperti al-Imam al-Baghowi, al-Imam al-Qurthubi, al-Imam ath-Thobari, al-Hafidz Ibnu Katsir, hingga Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumullah dalam kitab-kitab mereka menyebutkan pendapat bahwa Nabi Ya’qub alaihissalam sengaja menangguhkan istighfar untuk putra-putranya hingga waktu sahur tiba²). Hal itu sengaja beliau lakukan agar menepati waktu dikabulkannya sebuah doa.


Baca Juga: Seseorang yang Bangun Sebelum Sahur dan Ingin Sholat Malam Lagi


Catatan:

1) Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari sanadnya dalam kitab al-Ishobah: “Jayyid

2) Dinukilkan sebagian riwayat dengan makna demikian dari beberapa sahabat Nabi seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhum. Adapun riwayat yang menisbahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara marfu’ maka riwayat itu lemah. Wallahu a’lam

?️ Penulis:
Abu Dzayyal Muhammad Wafi