Tak perlu jauh-jauh mencari kosakata “amarah” di dalam kamus bahasa Indonesia. Yaitu suatu sifat yang dilekatkan kepada makhluk hidup, terutama manusia, dan tidak dimungkiri seluruh manusia memiliki amarah. Memanglah terkadang amarah menjadi terpuji bila menyangkut hak-hak maupun kewajiban Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi yang akan menjadi topik pembahasan kita kali ini adalah amarah yang tidak memiliki keterkaitan dengan hak-hak dan kewajiban Allah dan Rasul-Nya, bahkan hanya disebabkan perkara duniawi serta hal-hal sepele terkait dengannya. Ini jenis amarah yang tercela.
MENGENAL PEMICU AMARAH TERCELA
Amarah tidaklah tersulut kecuali memiliki sebab. Berikut di antara penyebab tersulutnya emosi dan amarah seseorang:
1. Senda Gurau Berlebihan yang Menimbulkan Cekcok dan Dendam
Banyak senda gurau dan terlalu lepas dalam menertawakan orang lain disertai cekcok dan mengumbar kekurangan-kekurangan, dan dari hal-hal yang menyebabkan berubahnya suasana hati dan menyebabkan timbulnya perselisihan dan dendam. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mewasiatkan untuk tidak melakukan senda gurau yang seandainya itu adalah suatu hal yang serius dikhawatirkan menjatuhkan seseorang dalam perselisihan, sehingga beliau bersabda:
لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا، وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik untuk bercanda atau sungguhan. Dan barang siapa yang mengambil tongkat saudaranya hendaknya dia mengembalikannya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Yazid bin Said bin Tsumamah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Dalam sebagian pesan yang banyak dinukilkan dalam kitab-kitab adab, disebutkan bahwa bercanda yang berlebihan dapat menimbulkan dendam dan bahkan saling cekcok antar teman. Namun, bercanda itu sesekali perlu dilakukan untuk menumbuhkan keharmonisan hubungan dan mempererat persaudaraan. Tentunya candaan yang tidak berlebihan atau melanggar syariat.
2. Ujub (Membanggakan Diri) dan Merasa Lebih Utama
Seorang yang ditimpa penyakit ujub akan selalu membanggakan dirinya serta merasa lebih utama daripada yang lain. Sama saja ujub dalam bentuk pikiran sehingga tergambar seakan-akan tidak ada seorang pun yang lebih berilmu, ataupun dia berbangga dengan garis keturunannya sehingga dia memandang tidak ada seorang pun yang lebih mulia dari dirinya, ataupun dengan harta dan berbagai aset yang dimilikinya hingga terbayang baginya bahwa seluruh manusia lebih miskin daripada dirinya. Sedangkan Nabi ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: هَوًى مُتَّبَعٌ، وَ شُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga hal yang membinasakan: mengikuti hawa nafsu, pelit yang dituruti takjubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath Thobarani dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’)
3. Perselisihan dan Perdebatan yang Tidak Bertujuan Mencari Kebenaran
Yaitu yang menyebabkan bersandarnya seseorang kepada akal pikirannya tanpa adanya ketundukan. Nabi ﷺ menjadikan perdebatan tidak hanya jalan menuju amarah, namun dapat menyebabkan kesesatan dan penyimpangan dari petunjuk. Nabi ﷺ bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah sebelumnya berada di atas petunjuk, melainkan mereka diberi sifat suka berdebat.” Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat (yang artinya): “Mereka tidak mengemukakan perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk berdebat saja; bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
4. Anggapan Keliru bahwa Amarah adalah Keberanian dan Kekuatan
Nabi ﷺ menyebutkan secara tegas anggapan bahwa amarah adalah keberanian atau kekuatan. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kekuatan sejati bukan pada fisik atau ledakan emosi, melainkan pada kemampuan menahan diri saat marah. Beliau bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (Muttafaqun ‘Alaih)
5. Lisan yang Jorok dan Perkataan Kotor
Seorang diberi musibah dengan lisan yang jorok, sehingga ia mempergunakan lisannya untuk mencaci, mengejek, menjelek-jelekkan, yang tidak menumbuhkan kecuali dendam di dalam dada, dan menyalakan amarah. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ. أَثْقَلُ شَيْءٍ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ
“Barang siapa diberi bagian dari kelembutan, maka sungguh ia telah diberi bagian dari kebaikan. Dan barang siapa terhalang dari kelembutan, maka sungguh ia telah terhalang dari kebaikan. Sebaik-baik dan seberat-berat sesuatu dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat adalah akhlak yang mulia, dan sesungguhnya Allah benar-benar membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrod dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al Adab Al Mufrod)
TUJUH KIAT MENGENDALIKAN AMARAH
Berikut beberapa kiat agar jiwa menjadi tenang kembali dan terbebas dari murka yang membara:
1. Memohon Perlindungan kepada Allah ﷻ dari Setan (Istia’adzah)
Setanlah yang paling dekat ketika manusia dalam keadaan marah. Allah ﷻ berfirman:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
”Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. Fushshilat: 36).
2. Berusaha untuk Diam (Menahan Lisan)
Hendaknya ketika seseorang sedang merasa marah dia berusaha untuk diam. Nabi ﷺ bersabda:
وَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ، وَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam; apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jamiʿ)
3. Mengubah Posisi Tubuh
Perubahan posisi dari berdiri menuju duduk, atau dari duduk menuju berbaring dapat membantu tertumpahnya amarah. Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika amarahnya telah hilang, maka (itu baik), tetapi jika belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’)
4. Berwudhu dan Mendinginkan Badan dengan Air
Amarah timbul dari sifat panas. Al-Imam Ibnul Qayyim berkata:
وَلَمَّا كَانَ الْغَضَبُ وَالشَّهْوَةُ جَمْرَتَيْنِ مِنْ نَارٍ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، أُمِرَ أَنْ يُطْفِئَهُمَا بِالْوُضُوءِ، وَالصَّلَاةِ، وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Amarah dan syahwat merupakan dua bara api yang terdapat pada hati manusia, maka diperintahkan (kepada kita) untuk memadamkannya dengan berwudhu, (mendirikan) salat, dan beristi’adzah memohon perlindungan dari setan yang terkutuk.” (Zaadul Ma’ad, 2/463)
5. Berzikir dan Beristigfar Mengingat Allah ﷻ
Hal ini mendorongnya untuk takut kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
“Dan ingatlah Rabbmu apabila engkau lupa.” (QS. al-Kahf : 24)
ʿIkrimah berkata: “Maksudnya, apabila engkau marah.” (Tafsīr ʿAbdur-Razzāq 2033; Tafsir Ibn Abi Hātim 1531)
6. Melihat kepada Buruknya Penampilan Diri Saat Marah
Al-Imam Ash-Shan’aniy berkata:
وَالْغَضَبُ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ تَغَيُّرُ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ، كَتَغَيُّرِ اللَّوْنِ، وَالرِّعْدَةِ فِي الْأَطْرَافِ، وَخُرُوجِ الْأَفْعَالِ عَلَى غَيْرِ تَرْتِيبٍ، وَاسْتِحَالَةِ الْخِلْقَةِ، حَتَّى لَوْ رَأَى الْغَضْبَانُ نَفْسَهُ فِي حَالَةِ غَضَبِهِ لَسَكَنَ غَضَبُهُ حَيَاءً مِنْ قُبْحِ صُورَتِهِ، وَاسْتِحَالَةِ خِلْقَتِهِ
“Amarah itu menyebabkan perubahan pada batin dan lahiriah seseorang: seperti berubahnya warna wajah, gemetar pada anggota tubuh, keluarnya tindakan-tindakan yang tidak teratur, dan berubahnya rupa seseorang. Bahkan, seandainya orang yang sedang marah melihat dirinya dalam keadaan marah, niscaya amarahnya akan reda karena malu melihat buruknya rupa dan bentuk dirinya yang berubah.” (Subulus Salam 1274)
7. Mengingat Besarnya Pahala Kesabaran
Hendaklah ia mengingat kembali besarnya balasan pahala yang akan ia dapatkan atas kesabaran dan penguasaan dia terhadap amarahnya. Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, serta apabila mereka marah segera memberi maaf.” (Q.S. Asy-Syura: 37).
PENUTUP
Semoga dengan beberapa kiat yang telah disebutkan, dapat membuat jiwa kita lebih lapang dan terhindar dari meluapnya amarah dan melampiaskannya kepada yang lainnya. Begitu pula sudah sewajarnya bagi kita sebagai seorang mukmin untuk menghindari berbagai perkara yang dapat membuat tersulutnya amarah kita maupun orang lain. Semoga Allah memberikan kita semua taufik untuk dapat mengontrol sifat amarah dan menghindarkan dari efek buruk darinya. Amin.
Penulis: Ibrahim Fuad, Tulungagung, Jawa Timur